keasaman dan kebasaan senyawa organik
keasaman dan kebasaan senyawa organik
Struktur
suatu molekul dapat mempengaruhi keasaman atau kebasaannya melalui beberapa
cara. Gugus hidroksil adalah suatu gugus fungsi asam yang dipengaruhi dengan
kuat oleh substituennya. Keasaman alkohol begitu lemah untuk dapat dinilai
terurai di dalam air, tetapi keberadaan gugus-gugus seperti C=O atau SO2 di
sampingnya akan sangat melemahkan ikatan O-H terhadap heterolisis. Adanya efek
resonansi pada suatu senyawa juga dapat mempengaruhi tingkat keasaman dan
kebasaan senyawa tersebut. Resonansi
juga dapat menstabilkan suatu basa konjugasi yang dihasilkan dalam peruraian
asam sehingga asam tersebut mempunyai sifat keasaman yang lebih tinggi daripada
yang diharapkan.
Sebagai
contoh ditemukan dalam fakta di mana keasaman asam karboksilat (3) jauh lebih
tinggi dibanding dengan keasaman alkohol primer (6). Ion RCOO- (4 dan 5)
distabilkan oleh resonansi yang tidak tersedia pada ion RCH2O- (7). Perlu
dicatat bahwa kestabilan ion RCOO- bukan hanya karena bentuk struktur-struktur
resonansinya yang ekuivalen tetapi juga karena muatan negatifnya tersebar pada
kedua atom oksigen sehingga muatan lebih tidak terkonsentrasi dibanding dengan
muatan negatif yang ada pada RCH2O-. Efek yang sama ditemukan pula pada senyawa
lain yang mengandung gugus C=O atau C≡N. Oleh karena itu, amida RCONH2 lebih
asam daripada amina RCH2NH2, ester RCH2COOR’ lebih asam daripada eter
RCH2CH2OR’, dan keton RCH2COR’ lebih asam daripada alkana RCH2CH2R’.
Faktor
lain yang biasanya juga sangat berpengaruh pada sifat keasaman adalah adanya
efek medan. Salah contoh di mana efek medan berpengaruh pada keasaman adalah
perbedaan keasaman antara asam asetat (8) dengan asam nitroasetat (9).
Kedua struktur molekul
di atas hanya berbeda pada substitusi NO2 terhadap H. Oleh karena gugus NO2
adalah gugus penarik elektron yang kuat maka gugus ini menarik kerapatan
elektron dari gugus bermuatan negatif (COO-) dalam anion asam nitroasetat. Hal
ini teramati pada nilai pKɑ asam nitroasetat yang kira-kira 1000 lebih kuat
daripada asam asetat. Suatu efek yang dihasilkan dari penarikan elektron dari
pusat muatan negatif adalah suatu efek penstabilan karena menyebarkan muatan
sehingga menurunkan kerapatannya. Dengan demikian, gugus –I meningkatkan
keasaman asam tak bermuatan seperti asetat karena menyebarkan muatan negatif
anionnya.
Gugus
-I juga meningkatkan keasaman asam bermuatan. Sebagai contoh, jika asam
bermuatan +1 (dan basa konjugasinya adalah basa tak bermuatan), gugus –I
mendestabilkan pusat positif (dengan meningkatkan muatan positif) asam, dan
destabilisasi akan hilang ketika proton terlepas. Pada umumnya dapat dikatakan
bahwa gugus yang menarik elektron melalui efek medan akan meningkatkan keasaman
dan menurunkan kebasaan, sedangkan gugus pendorong elektron akan bertindak ke
arah sebaliknya (lihat data pKɑ pada Tabel 2.2 dan Tabel 2.3). Keberadaan
ikatan hidrogen intramolekul dapat berpengaruh dengan sangat pada kekuatan asam
atau basa. Sebagai contoh, pKɑ asam o-hidroksibenzoat adalah 2,98; sedangkan
nilai pKɑ untuk isomer para-nya adalah 4,58. Tampaknya ikatan hidrogen
intramolekul antara gugus OH dengan gugus COO- basa konjugasi isomer orto (10)
menghasilkan kestabilan spesies tersebut sehingga meningkatkan keasaman.
Semua karbanion yang
bisa berada dalam larutan memerlukan delokalisasi muatannya, dan biasanya
kepada heteroatom. Gugus substituen yang terikat pada karbon asam biasanya
lebih memainkan peranan penting di dalam penentuan keasaman daripada di dalam
oksigen asam. Suatu alkana seperti etana (pKɑ > 40) bersifat kurang asam
daripada air sebesar 26 derajad kekuatan. Meskipun demikian, melalui modifikasi
struktur, keasaman karbon dapat mendekati keasaman asam mineral. Bahkan untuk
asam yang sangat lemah, sifat-sifat kimianya dapat tergantung pada kemampuan
terionisasi. Sebagi contoh, brominasi aseton (pKɑ 20) terkatalis basa lemah
dimulai dengan pemindahan proton sebagai tahap penentu kecepatan reaksi. Tabel
2.8 memberikan beberapa contoh nilai pKɑ untuk asam karbon.
dari uraian diatas, terdapat permasalahan yaitu bagaimana bisa resonansi dalam suatu senyawa dapat mempengaruhi tingkat keasaman dan kebasaan suatu senyawa organik? serta adanya efek induksi dan mesomeri dalam suatu senyawa apakah juga dapat mempengaruhi tingkat keasaman dan kebasaan suatu senyawa organik?
mohon jawabannya..

terima kasih pemaparan materinya, menurut saya efek induksi memberikan pengaruh terhadap tingkat keasaman maupun kebasaan. dimana pada suatu senyawa yang terdapat gugus penarik elektron maka akan adanya efek induksi, dimana efek induksi akan meningkatkan kekuatan keasaman
BalasHapusTerimakasih atas jawabannya...
HapusTerimakasih atas materinya :)
BalasHapussaya akan mencoba menjawab pertanyaan anda.
Resonansi dapat menstabilkan suatu basa konjugasi yang dihasilkan dalam peruraian asam sehingga asam tersebut mempunyai sifat keasaman yang lebih tinggi daripada yang diharapkan.hal ini yang membuat efek resonansi dapat mempengaruhi keasaman dan kebasaan senyawa organik. adanya efek induksi juga mempengaruhi sifat keasaman dari suatu senyawa dimana makin besar penarikan elektron oleh efek induktif, maka akan lebih kuat asamnya..
maaf jika jawaban saya kurang tepat..
Terimakasih atas jawabannya...
HapusHello kak sinta
BalasHapusTerima kasih atas penjelasannya yg sangat bermanfaat
Menurut saya Dengan adanya resonansi maka suatu senyawa akan lebih stabil sehingga asam atau basa nya suatu senyawa dapat diketahui.
Efek induksi dan mesomeri dapat mempengaruhi keasaman dan kebasaan karena adanya fungsi gugus sebagai penarik atau pendorong elektron yang mempengaruhi keasaman senyawa tersebut.
Demikian semoga bermanfaat😊
Terimakasih atas jawabannya.. Puja..
Hapusmateri yang sangat menarik, baiklah menurut saya dengan adanya resonansi maka suatu senyawa akan lebih bersifat asam hal ini dikarenakan dengan adanya resonansi maka akan terjadi deloklisasi elektron sehingga dapat menstabilkan basa konjugasinya.
BalasHapusTerimakasih atas jawaban yang diberikan
Hapusefek induksi sangat berpengaruh terhadap tingkat keasaman. Semakin banyak jumlah gugus pendorong elektron +I maka tingkat keasaman ny pun jg meningkat.
BalasHapusTerimakasih atas jawabannya...
HapusEfek induksi juga berpengaruh karena mempengaruhi kerapatan elektron yang memungkinkan H+ mudah atau sulit terlepas.
BalasHapusTerimakasih atas jawaban saudara..
Hapuskarena Resonansi dapat menstabilkan suatu basa konjugasi yang dihasilkan dalam peruraian asam sehingga dapat meningkatkan keasaman dari suatu senyawa organik.
BalasHapusTerimakasih atas jawabannya..
Hapuskarena pada resonansi ini adanya delkolasasi elektron yang dapat mempengaruhi keasaman suatu senyawa dimana dengan adanya delokalisasi maka basa konjugasi akan semakin stabil sehingga suatu senyawa akan semakin bersifat asam.
BalasHapusSaya akan mencoba menjawab, kita contohkan saja senyawa fenol dan sikloheksanol, Kestabilan basa konjugasi dari fenol terjadi karena anion dapat mendelokalisir muatan negatif ke sepanjang cincin dengan cara resonansi. Pada sikloheksanol, tidak terjadi resonansi, sehingga kekuatan asamnya jauh lebih kecil dibandingkan fenol.
BalasHapussaya akan mencoba menjawab pertanyaan, menurut saya resonansi akan mempengaruhi delokalisasi elektron sehingga basa konjugasi akan bersifat lebih stabil dan terjadi peningkatan sifat asam senyawa tersebut
BalasHapus