pembentukan ikatan C-C, penyerangan elektrofilik dan nukleofilik
Pembentukan
ikatan C-C
Setiap
atom atau unsur memiliki kecendrungan untuk saling berikatan baik sesama unsur
tersebut ataupun dengan unsur yang lain untuk mencapai kestabilan. Unsur
periode dua dan sebagian periode tiga yang memiliki orbital s dan p pada kulit
terluar akan berusaha untuk memenuhi teori oktet, yaitu memiliki delapan
elektron di kulit terluar seperti lazimnya terjadi dalam gas mulia. Jumlah
ikatan yang mampu dibentuk oleh suatu unsur ditentukan oleh jumlah elektron
terluarnya. Misalnya, unsur karbon yang memiliki 4 elektron terluar, harus
membentuk empat ikatan untuk memenuhi teori oktet. Ikatan tersebut dapat
terjadi dengan sesama atom karbon atau dengan atom lain seperti H, N, O, S,
maupun halogen.
6C : 1s2 2s2 2p2 elektron valensi = 4 membentuk empat ikatan
7N : 1s2 2s2 2p3 elektron valensi = 5 membentuk tiga ikatan
8O : 1s2 2s2 2p4 elektron valensi = 6 membentuk dua ikatan
Saat
berikatan, orbital masing-masing atom bergabung membentuk orbital baru, yaitu
orbital molekul. Ikatan yang dibentuk suatu unsur dapat berupa ikatan ion
maupun ikatan kovalen, tergantung pada seberapa besar perbedaan harga
keelektronegatipan dari unsur-unsur yang berikatan tersebut. Bila perbedaan
kelektronegatifannya kecil, seperti yang
umumnya terjadi dalam senyawa organik, maka unsur-unsur tersebut membentuk
ikatan kovalen.
Ikatan
kovalen dapat dibedakan menjadi dua, yaitu ikatan kovalen murni dan ikatan
kovalen koordinasi. Pada ikatan kovalen murni, pasangan elektron ikatan berasal
dari kedua atom yang berikatan, sedangkan pada ikatan kovalen koordinasi
berasal dari salah satu atom yang berikatan. Berdasarkan cara tumpang tindih
orbital masing-masing atom yang berikatan, ikatan kovalen dibedakan menjadi dua
yaitu, ikatan sigma (σ) dan ikatan phi (π). Ikatan sigma (σ) terjadi akibat
tumpang tindih orbital atom-atom sepanjang poros ikatan, sedangkan ikatan phi
(Ï€) terjadi akibat tumpang tindih orbital atom-atom yang tidak tidak berada
dalam poros ikatan. Adanya perbedaan cara tumpang tindih orbital dalam
pembentukan ikatan tersebut menyebabkan
perbedaan kekuatan ikatan. Ikatan sigma lebih kuat atau memiliki tingkat
energi lebih rendah dibandingkan ikatan phi. Sebelum kita menggambarkan proses
tumpang tindih orbital-orbital tersebut, ada baiknya kita pelajari dulu
hibridisasi atom karbon.
PEREAKSI
DALAM REAKSI ORGANIK
Dengan
adanya pengaruh dari pereaksi dan kondisi reaksi, suatu substrat dapat
mengalami pemutusan ikatan dan membentuk zat antara. Dari pemutusan ikatan
secara heterolitik, substrat berubah menjadi ion karbonium atau ion karbon yang
reaktif. Untuk mencapai kestabilan, ion karbonium atau ion karbon bereaksi
dengan pereaksi dengan muatan tertentu. Pereaksi tersebut dapat diklasifikasi
menjadi pereaksi nukleofil dan pereaksi elektrofil.
1.
Pereaksi nukleofil
pereaksi
nukleofil ion karbonium, kata nukleofil berasal dari kata bahasa Inggris,
nucleophilic yang terdiri dari kata nucleo (nucleus, bermuatan positif) dan
philic (menyukai). Jadi reaksi nukleofil menyukai sesuatu yang bermuatan
positif. Pereaksi nukleofil dapat berupa ion yang bermuatan negatif atau
molekul netral yang mempunyai atom dengan pasangan elektron bebas.
2.
Pereaksi elektrofil
Kata
elektrofil berasal dari kata bahasa Inggris electrophilic yang terdiri dari
kata electro (electron, bermuatan negatif) dan philic (menyukai). Jadi,
pereaksi elektrofil menyukai sesuatu yang bermuatan negatif. Pereaksi elektrofil dapat berupa ion positif
atau molekul netral yang mengandung atom pusat dengan orbital kosong.
Elektrofil positif:
Elektrofil netral:
Contoh mekanisme
penyerangan / substitusi elektrofil pada benzena
NUKLEOFIL, Spesies yang
kaya akan elektron yang dapat mem- bentuk ikatan kovalen dengan cara
mendonasikan 2 elektron kepada situs yang kekurangan elektron. Nukleofil
bermuatan negatif (anion) atau molekul netral yang berisi lone pair of
electron.
ELEKTROFIL, Spesies
yang kekurangan elektron yang dapat mem- bentuk ikatan kovalen dengan cara
menerima 2 elektron dari situs yang kaya akan elektron. Nukleofil bermuatan
positif (kation) atau molekul netral.
Situs nukleofil atau
elektrofil dalam suatu senyawa organik netral dapat ditentukan dengan melihat:
1. Keberadaan lone pair
2. Tipe ikatan (sp,
sp2, atau sp3)
3. Polaritas ikatan.
Atom
(N, O, atau S) yang memiliki elektron yang berpasangan merupakan situs
nukleofil. Ikatan rangkap 2 atau 3 dalam
alkena, alkuna, atau aromatis memiliki elektron dengan densitas tinggi, sehingga
bersifat sebagai nukleofil. (Ikatan tunggal C – C bukan nukleofil). Dalam suatu ikatan polar, elektron terikat
lebih dekat ke atom yang lebih elektronegatif. Atom elektronegatif merupakan
situs nukleofil, dan atom yang kurang elektronegatif merupakan situs
elektrofil.
Kekuatan
relatif nukleofil (nuklefilisitas) dari suatu anion, atau situs nukleofil dalam
suatu molekul netral, tergantung pada ketersediaan dua elektron. Semakin
elektronegatif suatu atom, maka semakin nukleofilik atom tersebut, karena atom
diikat lebih kuat oleh nukleus. Kekuatan nukleofil suatu anion, dalam satu
perioda yang sama pada tabel priodik, mengikuti aturan basisitas: semakin
elektronegatif suatu atom, maka semakin lemah nukelofilnya dan basanya.
Kekuatan
relatif nukleofil (nuklefilisitas) dari suatu anion, atau atom netral dalam
satu golongan yang sama, semakin ke bawah akan semakin bertambah. Elektron
terikat lebih lemah dengan bertambahnya ukuran atom, sehingga atom tersebut
lebih mudah membentuk ikatan. Atom yang lebih besar, yang mengikat elektron
dengan lebih lemah (daripada atom kecil), memiliki polarisabilitas yang lebih
besar.
Mekanisme
reaksi
1.
Adisi elektrofilik pada alkana
2.
Adisi nuleofilik pada alkana
3.
Substitusi nukleofilik alkil halida
4.
Substitusi nukleofilik alkil halida
Permasalahan:
1. Pereaksi
nukleofil dapat berupa ion yang bermuatan negatif atau molekul netral yang
mempunyai atom dengan pasangan elektron bebas. Apakah muatan negatif atau
netral dari nukleofilik akan berpengaruh pada saat reaksi?
2. Bagaimana
kekuatan relatif nukleofil (nuklefilisitas) dari suatu anion?

Terima kasih atas materinya
BalasHapus-Kekuatan relatif nukleofil (nuklefilisitas) dari suatu anion,
atau situs nukleofil dalam suatu molekul netral, tergantung
pada ketersediaan dua elektron.Semakin elektronegatif suatu atom, maka semakin
nukleofilik atom tersebut, karena atom diikat lebih kuat oleh
nukleus.
Kekuatan relatif nukleofil (nuklefilisitas) dari suatu anion,
BalasHapusatau situs nukleofil dalam suatu molekul netral, tergantung
pada ketersediaan dua elektron.
Semakin elektronegatif suatu atom, maka semakin
nukleofilik atom tersebut, karena atom diikat lebih kuat oleh
nukleus.
Kekuatan nukleofil suatu anion, dalam satu perioda yang
sama pada tabel priodik, mengikuti aturan basisitas:
semakin elektronegatif suatu atom, maka semakin lemah
nukelofilnya dan basanya.
saya akan mencoba menjawab pertanyaan no.2
BalasHapusKekuatan relative nukleofil (nuklefilisitas) dari suatu anion, atau situs nukleofil dalam suatu molekul netral, tergantung pada ketersediaan dua elektron. Semakin elektronegatif suatu atom, maka semakin nukleofilik atom tersebut, karena atom diikat lebih kuat oleh nukleus. Kekuatan nukleofil suatu anion, dalam satu perioda yang sama pada tabel periodik mengikuti aturan semakin elektronegatif suatu atom, maka semakin lemahn ukelofilnya dan basanya.
terimakasih :)
terimakasih atas materinya :)
BalasHapussaya akan menjawab pertanyaan anda.. Kekuatan relatif nukleofil dari suatu anion atau situs nukleofil dalam suatu molekul netral, tergantung
pada ketersediaan dua elektron.
Semakin elektronegatif suatu atom, maka semakin
nukleofilik atom tersebut,
Kekuatan nukleofil suatu anion, dalam satu perioda yang
sama pada tabel priodik, mengikuti aturan basisitas, yaitu semakin elektronegatif suatu atom, maka semakin lemah
nukelofilnya dan basanya.
terimakasih
saya mencoba menjawab pertanyaan kedua, Kekuatan relatif nukleofil (nuklefilisitas) dari suatu anion, atau atom netral dalam satu golongan yang sama, semakin ke bawah akan semakin bertambah. Elektron terikat lebih lemah dengan bertambahnya ukuran atom, sehingga atom tersebut lebih mudah membentuk ikatan. Atom yang lebih besar, yang mengikat elektron dengan lebih lemah (daripada atom kecil), memiliki polarisabilitas yang lebih besar.
BalasHapusTerima kasih atas materinya
BalasHapusKekuatan relatif nukleofil dari suatu anion atau situs nukleofil dalam suatu molekul netral, tergantung
pada ketersediaan dua elektron.
Semakin elektronegatif suatu atom, maka semakin
nukleofilik atom tersebut,
Kekuatan nukleofil suatu anion, dalam satu perioda yang
sama pada tabel priodik, mengikuti aturan basisitas, yaitu semakin elektronegatif suatu atom, maka semakin lemah
nukelofilnya dan basanya.
Demikian semoga bermanfaat
BalasHapusKekuatan relatif nukleofil (nuklefilisitas) dari suatu anion, atau atom netral dalam satu golongan yang sama, semakin ke bawah akan semakin bertambah. Elektron terikat lebih lemah dengan bertambahnya ukuran atom, sehingga atom tersebut lebih mudah membentuk ikatan. Atom yang lebih besar, yang mengikat elektron dengan lebih lemah (daripada atom kecil), memiliki polarisabilitas yang lebih besar.
Saya akan menjawab pertanyaan nomor 2 Kekuatan relatif nukleofil (nuklefilisitas) dari suatu anion, atau atom netral dalam satu golongan yang sama, semakin ke bawah akan semakin bertambah. Elektron terikat lebih lemah dengan bertambahnya ukuran atom, sehingga atom tersebut lebih mudah membentuk ikatan. Atom yang lebih besar, yang mengikat elektron dengan lebih lemah (daripada atom kecil), memiliki polarisabilitas yang lebih besar.
BalasHapus